Susahnya menjadi manusia yang benar… tapi bukan berarti semua manusia yang ada di muka bumi tidak benar. Hanya saja, sulit dan butuh perjuangan. Hidup sebenarnya memang untuk berjuang, kutipan ini tidak saya ambil dari ucapan salah satu ketua partai tertentu lo, hanya saja filosofisnya memang demikian. Betapa tidak, disadari atau tidak manusia dalam hidupnya memang mencari sesuatu yang dapat Ia perjuangkan. Mahasiswa berjuang kuliah untuk mendapat “nilai +”, jadi jangan mengeluh jika banyak tugas dari dosen dan memakai alasan “sibuk buat laporan”. Dosen berjuang dalam mengajar, so jangan mengeluh mendapati mahasiswa yang ndableq dan membuat opini yang selalu “miring” tentang si ini atau si anu. Seperti seorang Ibu yang tidak bosen melahirkan anak pertama, kedua dan seterusnya…. kalo dipahami, buat apa melahirkan anak kedua jika si Ibu sudah pernah merasakan beratnya melewati prosesi melahirkan sampai-sampai jiwa Ia pertaruhkan. Namun toh si Ibu tetap sayang dan merawat si Anak dengan penuh kasih,meski si Ibu sudah dibuat susah dan repot. Semua itu kembali kepada fitrah manusia yang memang hidup di dunia untuk berjuang, berjuang melawan hawa nafsu untuk mencapai yang di ridloi-NYA dengan selalu mensyukuri semua nikmat-NYA yang secuilpun tidak dapat kita dustakan. Namun betapa banyak manusia tidak sadar akan nikmat ini, hidup selalu mengeluh, selalu memandang orang lain “negatif” karena merasa Ia yang paling benar, merasa menjadi manusia yang mempunyai mimpi sedangkan yang lain tidak. Memang kadang sulit sekali bercermin diri, telinga bebal menerima nasehat dari orang lain dan tidak “nguwongke wong”. Betapa sekarang banyak manusia yang tidak bisa menjadi manusia sepenuhnya, bahkan lebih buruk dari hewan. Semoga kita semua termasuk manusia yang tidak sulit menjadi manusia dan selalu mendapat bimbingan-NYA. Amin.